dinperta.bojonegorokab.go.id — Harga cabai rawit yang naik-turun tak menentu memang sudah jadi langganan obrolan, dari warung kopi sampai rapat pengendalian inflasi. Tapi daripada terus jadi bahan keluhan, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro memilih turun langsung ke akar soalnya: cara tanam. Lewat Sekolah Lapang Smart Farming Tanaman Cabai Rawit, petani diajak "naik kelas" dari sekadar menyiram pakai gayung dan menerka-nerka takaran pupuk, menuju budi daya cabai yang dikawal sensor, timer, dan formula ramah lingkungan (15/7).
Kegiatan ini digelar di dua lokasi sekaligus: P4S Joyotani di Desa Bendo, Kecamatan Kapas, dan Rumah Produksi Tani Mandiri Wiragatama Tani di Desa Klepek, Kecamatan Sukosewu. Keduanya dipilih bukan tanpa alasan — dua tempat ini sudah punya rumah lindung (screen house) dan lahan demplot yang representatif, sehingga peserta bisa langsung praktik, bukan cuma dengar teori di atas kertas.
Suasananya pun cukup hidup penuh semangat dari peserta. Puluhan peserta "Smart Farming" memadati kursi-kursi plastik di bawah naungan screen house, sementara itu Tim DKPP Bojonegoro, BBPP Ketindan & DPRD Komisi B turut hadir mendampingi. Banyaknya wajah muda yang ikut jadi sinyal tersendiri: regenerasi petani lewat pendekatan yang lebih "kekinian" ini kelihatannya mulai menemukan jalannya.
Begitu acara dibuka, forum langsung disambung laporan kegiatan oleh Tim DKPP Bojonegoro yang menegaskan bahwa program ini dikawal langsung dari level pimpinan dinas dengan fokus pada peserta smart farming adalah milenial muda dengan narasumber yang sangat tepat dari BBPP Ketindan agar regenerasi petani tetap tumbuh denagn sentuhan teknologi pertanian.
Yang menarik, forum tidak berhenti di situ. Giliran berikutnya diisi oleh Komisi B DPRD Kabupaten Bojonegoro, yang membidangi urusan perekonomian termasuk sektor pertanian. Kehadiran unsur legislatif ini menunjukkan dukungan terhadap smart farming di Bojonegoro tidak cuma datang dari sisi eksekutif, tapi juga mendapat perhatian dari sisi pengawasan dan penganggaran di tingkat dewan.
Materi inti pelatihan dipegang oleh Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan. Peserta diajak memahami konsep smart farming dari hulu ke hilir — mulai dari cara memilih lokasi dan lahan, memilih varietas, mengatur pemupukan fertigasi dan irigasi, mengelola tajuk tanaman, mengendalikan hama-penyakit-gulma, sampai menangani hasil panen hingga siap didistribusikan.
Salah satu bagian yang paling dinanti adalah perkenalan BASPENTA, singkatan dari Basmi Penyakit Tanaman, dengan filosofi yang cukup menggelitik: "membasmi tanpa membunuh". Formulanya sederhana dan bahan-bahannya mudah didapat petani — sari jeruk lemon, agen hayati PGPR (Rhizobium, Bacillus, Pseudomonas), kapur gamping, air, dan jeruk — diperkenalkan sebagai alternatif ramah lingkungan untuk menghadapi momok klasik petani cabai: penyakit keriting daun dan layu fusarium.
Setelah bekal teori dirasa cukup, peserta tidak lagi cuma duduk mendengarkan. Bersama tim BBPP Ketindan, mereka turun langsung ke lahan dan mempraktikkan semuanya tahap demi tahap. Dimulai dari menyiapkan polibag dan media tanam — campuran kompos atau pupuk kandang yang sudah dicampur sekam dan kotoran sapi, lalu diperkaya dengan bakteri M21 Dekomposer serta Asam Amino agar unsur haranya lebih maksimal dan proses dekomposisinya lebih cepat.
Dari situ, peserta lanjut memasang sendiri instalasi smart farming di lahan, termasuk sistem irigasi tetes (drip irrigation) yang sudah dilengkapi timer dan sensor otomatis — inilah wujud nyata pertanian presisi (precision farming) yang tadinya cuma jadi bahan teori. Barulah di tahap akhir, bibit cabai rawit ditanam pada media dan instalasi yang sudah disiapkan, menandai selesainya satu putaran penuh dari sekolah lapang ini.
Praktik instalasi alat smart farming pada demplot cabai rawit di kawasan Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro.
Foto bersama Peserta Sekolah Lapang Smart Farming Tanaman Cabai Rawit,Tim BBPP Ketindan, Tim DKPP & Komisi B Kabupaten Bojonegoro.
Sekolah Lapang Smart Farming Tanaman Cabai Rawit ini menegaskan arah kebijakan DKPP Bojonegoro yang tidak berhenti di imbauan atau sosialisasi di atas kertas, melainkan mengajak petani langsung mempraktikkan teknologi pertanian presisi di lahan sendiri. Harapannya sederhana tapi penting: petani cabai rawit di Kecamatan Kapas dan Sukosewu — dan pada gilirannya di wilayah lain Bojonegoro — bisa lebih mandiri mengelola media tanam, irigasi, sampai pengendalian hama dan penyakit, sehingga hasil panennya tetap terjaga dari waktu ke waktu.
Kalau pendekatan seperti ini terus dijalankan dan direplikasi ke lebih banyak wilayah, bukan tidak mungkin cerita "harga cabai melonjak setiap musim" pelan-pelan mulai berkurang — digantikan oleh petani-petani muda yang lebih percaya diri berbudi daya dengan bantuan sensor, timer, dan formula ramah lingkungan di tangan mereka sendiri.
|
|
|
|
|
Sangat Puas
35 % |
Puas
35 % |
Cukup Puas
4 % |
Tidak Puas
26 % |