Wereng batang coklat  (Nilaparvata lugens)  atau yang disingkat WBC merupakan salah satu hama pada  tanaman  padi  yang  paling  berbahaya  dan merugikan  petani  padi karena dapat mengakibatkan gagal panen. Selain itu,  WBC  juga menjadi vektor bagi  penularan penyakit kerdil rumput dan kerdil hampa. Siklus hidup WBC relatif pendek yaitu lebih kurang 35 hari dimana seekor WBC betina mampu beranak sampai 300 ekor. Kemampuan terbang WBC yang bersayap selama 30 hari bisa mencapai 200 KM. WBC dapat menyerang tanaman padi pada semua umur, sehingga  pengendaliannya harus tuntas pada generasi I atau selambat-lambatnya pada generasi II.

Terjadinya kemarau basah (La-Nina) yang menyebabkan suhu naik 1,9oC dan kelembaban naik 25%, sangat cocok bagi perkembangan WBC dan tersedianya makanan sepanjang tahun (3 kali tanam) menjadi pemicu perkembangan WBC.

Daerah endemik WBC saat ini meliputi Kecamatan Balen, Kapas, dan Kepohbaru. Untuk daerah sporadis WBC meliputi Kecamatan Bojonegoro, Malo, Trucuk, Kalitidu, Gayam, Kasiman, Purwosari, Ngasem, Sukosewu, Kanor, dan Baureno. Sedangkan Kecamatan lainnya merupakan daerah potensial WBC. Prakiraan serangan WBC Tahun 2021 ini diperkirakan lebih tinggi dibanding serangan MT 2019/2020.

Dalam rangka pengendalian serangan WBC maka perlu dilakukan upaya pengendalian preemtif dan responsif. Pengendalian preemtif meliputi penerapan PHT skala luas (hamparan tanam serempak), pengolahan tanah dayung, penggunaan dekomposer, penggunaan benih bermutu, perlakuan benih dengan air garam dan PGPR, pengembalian jerami/pupuk kompos, pemupukan berimbang NPK, penggunaan pupuk cair dengan kalium dan silikat. Sedangkan pengendalian responsif dilakukan dengan aplikasi agens hayati (Beauveria bassiana, Lecanicillium lecanii) bila ditemukan populasi WBC pada pesemaian maupun pertanaman. Penggunaan insektisida anjuran merupakan pilihan terakhir apabila populasi sangat tinggi dan disarankan tidak berulang-ulang, harus dikombinasikan dengan agens hayati.

Dalam rangka gerakan pengendalian WBC di Kabupaten Bojonegoro, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bojonegoro memberikan bantuan pestisida sebagai stimulan. Agar pengendalian WBC efektif maka perlu dilakukan serempak dan bersamaan dalam skala hamparan. Penyemprotan insektisida sebaiknya dilakukan saat air embun sudah hilang yaitu antara pukul 08.00 s.d 11.00 WIB dengan arah nozzle menghadap batang padi tempat berkumpulnya WBC. Yang perlu diperhatikan apabila menggunakan pestisida harus memenuhi anjuran 6 T (Tepat sasaran, jenis, waktu, cara, dosis, mutu).

Untuk mengantisipasi munculnya serangan WBC generasi selanjutnya yang lebih kuat, resisten terhadap pestisida dan daya terbangnya lebih jauh maka perlu dilakukan jeda tanam dengan waktu minimal 1 (satu) bulan dengan kondisi lahan sudah terolah untuk memutus siklus hidup WBC. Sedangkan untuk daerah endemik WBC perlu dilakukan pergiliran pola tanam.


By Admin
Dibuat tanggal 05-03-2021
16138 Dilihat
Bagaimana Tanggapan Anda?
Sangat Puas
34 %
Puas
37 %
Cukup Puas
5 %
Tidak Puas
24 %