dinperta.bojonegorokab.go.id — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro bersama Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur menggelar kegiatan Pembinaan sekaligus Penyerahan secara Simbolis Bantuan Sarana Prasarana dan Perlindungan Tanaman Tahun Anggaran 2026. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah dalam mencapai swasembada pangan dan memastikan ketersediaan pangan berkualitas.
Dalam sambutannya usai penyerahan bantuan, Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, menjelaskan berbagai jenis bantuan yang disalurkan kepada kelompok tani (poktan) dan gabungan kelompok tani (gapoktan) di Kabupaten Bojonegoro.
"Jadi hari ini kami ada bantuan untuk para petani dari APBD dan APBN. Yang pertama itu terkait pompa, yang ke dua traktor, yang ke tiga kombi, yang ke empat asuransi untuk petani tembakau," ujar Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono.
Bupati juga menekankan pentingnya kerja sama antara para petani dengan jajaran dinas terkait dan petugas lapangan. "Kami berharap satu sinergi mereka dengan dinas pertanian dan PPL. Yang ke dua kolaborasi dan kekompakan dalam mempergunakan alat yang sudah dibantukan," tegasnya.
"Harapannya tentu kita ingin Bojonegoro menjadi lumbung pangan nasional tidak hanya untuk Jawa Timur," lanjut Bupati.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, menyampaikan pesan khusus terkait optimasi pemanfaatan alsintan di lapangan. "Tadi sudah dilakukan pembinaan oleh bapak Bupati dan penyerahan alat alsintan dan tadi kami menyambung perintah pak Bupati, bantuan ini dimanfaatkan untuk menghadapi kekeringan," tutur Wakil Bupati Nurul Azizah.
Rincian Bantuan TA 2026 Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro, bantuan yang diserahkan meliputi 4 (empat) program utama:
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bojonegoro, Zaenal Fanani, memaparkan kondisi pertanaman serta imbauan bagi para petani dalam menghadapi musim kemarau.
"Sebetulnya kita khawatirkan ya kemarin pada saat BMKG mengeluarkan ramalannya dari kemarau Bojonegoro itu kan dimulai pada dasarian ke-2 bulan April. Nah ini memunculkan kekhawatiran ada sekitar 9000 hektar pada saat itu yang kita belum punya skenario untuk menyelamatkan. Tapi alhamdulillah kemarau itu mundur sampai satu setengah bulan... akhirnya seluruh pertanaman kita pada musim ke-2 itu selamat," ungkap Zaenal Fanani.
Guna menghadapi musim tanam berikutnya di wilayah pasokan air terbatas, pihak DKPP mengimbau petani untuk menyesuaikan jenis komoditas. "Untuk musim kemarau jelas diharapkan tidak menanam padi kalau memang tidak ada air. Nah bisa menanam tanaman lain bisa kacang hijau ya yang harganya juga cukup tinggi, kedelai, atau tembakau... nilai ekonomisnya dibanding padi. Kalau mau nanam tembakau bibitnya bisa minta dari dinas, nanti kita bantu juga ada pupuknya," jelasnya.
Zaenal Fanani juga menambahkan bahwa Pemkab Bojonegoro siap memfasilitasi pembangunan infrastruktur air cadangan. "Bapak bupati dan ibu wakil bupati sudah menganjurkan kita untuk memperbanyak sumur, silakan mengajukan bantuan sumur bor akan kita lakukan, cek di lapangan kita rencanakan kalau emang ada sumber airnya akan kita eksekusi," pungkas Zaenal Fanani.
|
|
|
|
|
Sangat Puas
35 % |
Puas
35 % |
Cukup Puas
4 % |
Tidak Puas
26 % |